astar anjenggggggggggg
langsung tangkap aja min nama nya ilham
Pandeglang — Sebuah insiden peretasan situs layanan publik kembali mencuri perhatian publik, bukan semata karena aspek keamanannya, melainkan karena isi pesan emosional yang ditinggalkan pelaku. Halaman https://si-gampang-bu.pandeglangkab.go.id/x.php, yang berada dalam sistem layanan milik Pemerintah Kabupaten Pandeglang, dilaporkan mengalami deface oleh seorang peretas yang menamakan dirinya AstarGanz.
Berbeda dari kebanyakan aksi peretasan yang sarat ancaman atau pesan politis, halaman tersebut justru berubah menjadi ruang curhat digital. Pelaku menuliskan kisah patah hati yang ia alami, lengkap dengan pengakuan tentang hubungan asmara yang berakhir karena tidak mendapat restu keluarga pasangan.
Narasi yang ditampilkan menunjukkan kondisi emosional pelaku yang sedang terluka. Ia mengaku sempat menyalahkan diri sendiri, merasa kurang, hingga kehilangan arah. Tulisan-tulisan tersebut disampaikan secara terbuka, seolah menjadi cara terakhir untuk meluapkan perasaan yang selama ini dipendam.
Alih-alih menunjukkan sikap arogan, pesan yang muncul justru menggambarkan kerapuhan emosional seorang manusia. Sosok yang selama ini identik dengan dunia gelap siber dan keahlian teknis tinggi, dalam kasus ini tampil sebagai individu yang sedang patah hati dan kebingungan menghadapi kenyataan.
Menariknya, aksi tersebut memicu gelombang reaksi warganet di media sosial. Jika biasanya peretas langsung mendapat kecaman keras, kali ini respons publik justru terbelah. Tidak sedikit warganet yang menyatakan empati dan membela sisi manusiawi pelaku.
Beberapa komentar yang ramai beredar di media sosial di antaranya berbunyi:
“Wanita mana yang nyakitin dia sampai segalau ini?”,
“Skill dewa tapi tetap kalah sama perasaan”,
hingga “Hacker juga manusia, bukan robot tanpa hati.”
Banyak warganet menilai bahwa meskipun tindakan peretasan tidak bisa dibenarkan, pesan yang disampaikan memperlihatkan realitas emosional yang sering diabaikan, terutama pada laki-laki yang kerap dituntut untuk selalu kuat dan diam saat terluka.
Sejumlah pengguna media sosial bahkan menyebut insiden ini sebagai simbol bahwa luka batin bisa muncul pada siapa saja, tanpa memandang latar belakang, profesi, atau kemampuan teknis. Kegalauan yang dituangkan dalam deface tersebut dianggap sebagai bentuk pelampiasan emosi yang salah arah, namun tetap manusiawi.
Dari sisi keamanan siber, pengamat menegaskan bahwa peretasan tetap merupakan pelanggaran serius dan menunjukkan adanya celah keamanan pada sistem web layanan publik. Namun mereka juga menilai bahwa motif emosional seperti ini memperlihatkan dimensi lain dari dunia siber, di mana faktor psikologis bisa menjadi pemicu utama sebuah aksi digital.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi terkait pemulihan halaman https://si-gampang-bu.pandeglangkab.go.id/x.php. Meski demikian, insiden ini telah terlanjur menjadi perbincangan luas dan meninggalkan satu pesan kuat di ruang publik digital:
di balik nama hacker, exploit, dan deface, ada manusia yang bisa galau, patah hati, dan terluka—sama seperti yang lain.












Komentar
Tuliskan Komentar Anda!